Sudah hampir dua bulan pansus angket Century bekerja. Mulai dari pagi sampai tengah malam mereka bekerja mengumpulkan data dari kesaksian beberapa tokoh yang diduga terkait dalam kasus bail out Century. Beberapa tokoh berhasil dihadirkan, demi mendapatkan data dan informasi yang dibutuhkan untuk mengungkap kebenaran dari sebuah tuduhan konspirasi pengeluaran dana bailout Bank Century mulai dari Boediono, Sri Mulyani, Jusuf Kalla, Robert Tantular, Darmin Nasution dan masih ada beberapa tokoh lagi yang dihadirkan untuk dimintai keterangannya dalam kasus ini. Setelah berlangsung lebih dari sebulan, anehnya sepertinya tak banyak data dan informasi yang diperoleh, sehingga pansus seakan belum siap mengeluarkan keputusan sementara. Bila dilihat dari rentang waktu yang dimiliki Pansus, memang mereka masih memiliki waktu untuk mengumumkan itu. Tapi paling tidak, ada sedikit secercah pencerahan sehingga rakyat tal lagi bertanya-tanya tentang apa yang dikerjakan Pansus selama ini. Karena dalam hal ini rakyat sendiri tidak mau tahu menahu tentang apa yang terjadi didalam Pansus, yang rakyat inginkan adalah adanya sebuah kejelasan mengenai kasus ini, asumsinya adalah rakyat sudah mengembankan amanahnya pada anggota dewan terhormat, dan didalamnya termasuk panitia angket Bank Century itu. Terkesan egois memang, ya tapi itulah hakikatnya rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi.
Harapan demi harapan selalu ditunggu, kejelasan demi kejelasan selalu dicari untuk memecahkan missing link yang terjadi pada aliran dana Century. Tapi sepertinya rakyat masih harus menunggu dan menunggu, karena pansus kelihatannya lebih dulu mementingkan penyelesaian konflik diantara sesama anggota pansus. Wajar memang, karena anggota pansus terdiri dari beberapa fraksi yang memiliki perbedaan pemahaman dan perbedaan kepentingan. Tampaknya pansus harus mencocokkan kesimpulan yang diambil dari setiap fraksi. Logikanya, menyatukan pikiran saja bisa memakan waktu yang lama, lalu bagaimana dengan kasus ini, dimana pansus harus menyatukan perbedaan kepentingan. Tapi tak apalah, asalkan nantinya pansus dapat menghasilkan sebuah kesimpulan yang jelas, jangan malah meninabobokan rakyat karena harus menunggu lama sebuah kesimpulan yang dikeluarkan pansus.
Perdebatan alot memang selalu mewarnai kegiatan pansus. Entahlah apa yang mereka perdebatkan, rupanya mereka masih belum menyadari hakikat mereka sebagai pengemban amanah rakyat yang seharusnya memiliki kesatuan visi, tapi malah sebuah ironi yang terjadi didalamnya. Karena kini telah terjadi apa yang dinamakan “Politik Barbar” dimana terjadi serang menyerang argument antara sesama anggota pansus untuk membenarkan argumennya. Padahal mereka berada didalam sebuah institusi yang seharunya membuat mereka semakin terhormat dan selalu memperjuangkan kebenaran. Hanya sebagian anggota pansus yang benar-benar serius ingin membongkar kasus Century ini, karena sisanya merupakan mitra koalisi, sehingga mau tidak mau harus mengikuti power dari pihak koalisi, oleh karena itu dirasakan kini tujuan dari pansus ini seakan berbelok tidak lagi pada jalurnya, tapi seakan diperhalus dengan konflik-konflik yang terjadi agar dapat menyamarkan pembelokkan arah ini. Oleh karena itu, rakyat selalu disajikan pemandangan anngota pansus yang selalu berseteru, sehingga ini dapat menjadi sebuah alibi bagi pansus apabila rakyat mulai menanyakan kinerja pansus selama ini, terlebih lagi peran media yang begitu setia meliput kerja pansus, tentu semakin berhasil tujuan pembelokkan pansus, tapi sayangnya tidak semua jeli melihat itu.
Hal ini terlebih dapat karena komposisi anggota pansus itu sendiri lebih didominasi frkasi yang mendukung pemerintahan pada masa itu, rupanya blok koalisi lebih besar proporsinya ketimbang blok oposisi, otomatis ini sangat mendukung sekali. tapi rasanya jelas juga dapat terlihat, dari vokalitas anggota pansus yang hanya itu-itu saja orangnya, mulai dari Marruarar Sirait, Ganjar Pranowo, Melchias…, dan Akbar Faisal, dan sisanya lagi entah kemana. Kalaupun mengajukan pertanyaan, ya rasanya ngambang terdengar pertanyaannya. Adapun dari fraksi Demokrat yang terlihat seperti pasang badan tentang kasus ini, dengan selalu menyimpulkan tidak ada yang salah dari bail out Century. Tentu berbading terbalik dengan fraksi PDI P, Hanura, dan Gerindra yang menyimpulkan telah terjadi sebuah kekeliruan terhadap proses penyelamatan Bank Century.
Seperti yang kita ketahui bersama fraksi Demokrat merupakan fraksi yang berpengaruh besar dipansus. Selain jumlah anngotanya yang kuat, fraksi-fraksi yang lain (kecuali PDI-P, Gerindra dan Hanura) merupakan mitra koalisi, oleh karena itu secara otomatis power yang mampu mempengaruhi apapun keputusan dari pansus ini tentunya dari fraksi ini. Tapi tidak menutup kemungkinan “Minority Influence” malah dapat lebih berpengaruh, karena penelitian terdahulu pernah menunjukkan adanya kekuatan minoritas yang dengan sukses mempengaruhi suara mayoritas dibawah keadaan spesifik (Kaarbo, 1998; Karboo & Beasley, 1998; Moscovici, 1985). Suksenya suara minoritas mendesak suara pengaruh suara mayoritas dengan tetap menjadi oposisi (Wood Lundgter, Oullete, Besceme, & Blackstorie, 1994), setiap anggota oposisi yang konsisten memperjuangkan suara minoritas merasa lebih jujur dan berkompeten (Bassili & Provencal, 1988). Rasanya teori diatas memang benar-benar menujukkan keadaan sekarang yang terjadi didalam Pansus Century.
Dengan adanya perdebatan dari beberapa fraksi ini, sebenarnya hanya menambah rakyat semakin bingung. Sebenarnya akan dibawa kemana kasus Century ini??? Apakah akan dibawa keranah hukum, atau malah akan dibawa keranah politik. Padahal sudah seringkali beberpa anggota Pansus mengatakan, didalam pansus ini kita bukan mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah, tapi kita mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Tapi anehnya sekarang malah berkembang isu tentang “pemakzulan” presiden dari arah Pansus Century ini. Berarti secara eksplisit sangatlah jelas Pansus ini tidak lagi berada dijalur hukum, tapi sudah berbelok mengembara kearah politik dengan isu impeachment tersebut.
Mudah-mudahan kesimpulan yang nantinya dihasilkan oleh Pansus Century, benar-benar kesimpulan yang sesungguhnya, tak ada lagi tunggang-menunggang kepentingan untuk membelokkan kesimpulan dari kasus ini, karena sejatinya rakyat sudah lelah dengan semua pembodohan ini, sekarang sudah saatnya kedaulatan rakyat benar-benar ditegakkan, sehingga tak ada lagi borok-borok yang tersamarkan, dan tentunya proses hukum dari hasil Pansus ini nantinya tidak hanya menjadi isapan jempol tapi benar-benar dijalankan sebagaimana mestinya.
Sebagai rakyat biasa kita hanya mampu berdoa, semoga kasus ini dapat benar-benar terselesaikan sampai ke akar-akarnya, tentu rakyat akan selalu memantau kasus ini. Mulailah belajar menerima kenyataan, jangan malah menutupi sebuah kenyataan. Mungkin itulah sedikit himbauan bagi para anggota Pansus angket Century, karena kini rakyat sudah pasang badan untuk terus memantau penyelesaian kasus ini,,, tangan terkepal dan maju kemuka…!!!!
Jumat, 05 Februari 2010
Senin, 11 Januari 2010
Love Abuse (Abnormal Approach, Part II)
Kenapa penderita insomnia kebanyakan wanita….???
Aha…aku tahu.., karena mereka lebih banyak berpikir tentang rasa, ketimbang logika….
Entah itu insomnia kronis, transient, atau bahkan intermittent…
Aku yakin pasti ada hubungannya dengan sebuah komitmen…
Tapi hebatnya jarang berkembang menjadi sexsomnia yang merupakan tipe dari parasomnia…
Karena itu lebih sering terjadi pada pria, seperti halnya hipersomnia….
Ya.., begitulah wanita…
Mereka mengurangi motilitas ususku…
Mengencangkan detak jantungku…
Membuat pupilku yang besar menjadi mengecil, bahkan cenderung tidak stabil…
Aku bingung, apakah ini sebuah pencetus, predisposisi atau sebuah kontribusi
Karena hawa menjadikanku semakin adiksi…
Aku tak mau menjadi love abuse…
Tuhan…
Kirimkan aku petidin, codein, heroin atau morfin dari golongan opioda…
Ketimbang barbiturate dan meprobamat dari golongan sedative hipnotika…
Tapi jangan juga kau lupakan stimulansia, kanabinoida, dan halusinogenika…
Karena aku takut, ini menjadikanku intosikasi akut…
Berharap terhindar dari sindrom amnestik yang akan menjadikanku psikotik…
Dengan tidak memungkiri dari ketergantungan psikologik dan fisik…
Karena efek spesifik ini berawal dari sebuah kimiawi psikoaktif
Yang semakin membuatku menjadi pasif…
Aha…aku tahu.., karena mereka lebih banyak berpikir tentang rasa, ketimbang logika….
Entah itu insomnia kronis, transient, atau bahkan intermittent…
Aku yakin pasti ada hubungannya dengan sebuah komitmen…
Tapi hebatnya jarang berkembang menjadi sexsomnia yang merupakan tipe dari parasomnia…
Karena itu lebih sering terjadi pada pria, seperti halnya hipersomnia….
Ya.., begitulah wanita…
Mereka mengurangi motilitas ususku…
Mengencangkan detak jantungku…
Membuat pupilku yang besar menjadi mengecil, bahkan cenderung tidak stabil…
Aku bingung, apakah ini sebuah pencetus, predisposisi atau sebuah kontribusi
Karena hawa menjadikanku semakin adiksi…
Aku tak mau menjadi love abuse…
Tuhan…
Kirimkan aku petidin, codein, heroin atau morfin dari golongan opioda…
Ketimbang barbiturate dan meprobamat dari golongan sedative hipnotika…
Tapi jangan juga kau lupakan stimulansia, kanabinoida, dan halusinogenika…
Karena aku takut, ini menjadikanku intosikasi akut…
Berharap terhindar dari sindrom amnestik yang akan menjadikanku psikotik…
Dengan tidak memungkiri dari ketergantungan psikologik dan fisik…
Karena efek spesifik ini berawal dari sebuah kimiawi psikoaktif
Yang semakin membuatku menjadi pasif…
Minggu, 10 Januari 2010
Love Disorder (Abnormal Approach)
Sendiri…,Begitulah keseharianku
Sepi…..,Begitulah suasana hatiku…
Laksana autis disetiap hari-hariku…
Seperti amnesia akan cinta…
Terasakan sebuah delirium yang tidak umum…
Akankah ini menjadi sebuah demensia kompleks….???
Tidak…
Denial harus segera tercipta….!!!
Afek tentang cinta harus menjadi manik…!!!
Karena aku bukanlah penderita gangguan mental organik..!!!
Bergeraklah menuju minor, jangan mayor…!!!
Karena jika mayor aku akan mengalami retardasi psikomotor…
Tapi aku juga tidak ingin menjadi paranoid…
Yang menjadikanku erotomania bahkan sampai megalomania…
Aku hanya ingin menghilangkan persekutorik dari tipe somatik…
Itu akan membawaku menjadi seorang parafrenia..,
Atau bahkan sampai pada tahap shared paranoid…
Cinta..cinta…
Tak ku sangka kau membawaku sampai pada toleransiku….
Padahal aku berharap adanya sedikit withdrawal…
Tapi tak apalah.., asalkan tidak menjadi parafilia aku sangat bahagia…
Karena ancaman fetishism dan transvesticnya begitu memalukan…
Belum lagi dengan voyeurism dan frotteurism…
Kini rasanya cinta menjadi insomnia…
Ah …tapi tak apalah, karena ku yakin ini adalah sebuah karunia…
Sepi…..,Begitulah suasana hatiku…
Laksana autis disetiap hari-hariku…
Seperti amnesia akan cinta…
Terasakan sebuah delirium yang tidak umum…
Akankah ini menjadi sebuah demensia kompleks….???
Tidak…
Denial harus segera tercipta….!!!
Afek tentang cinta harus menjadi manik…!!!
Karena aku bukanlah penderita gangguan mental organik..!!!
Bergeraklah menuju minor, jangan mayor…!!!
Karena jika mayor aku akan mengalami retardasi psikomotor…
Tapi aku juga tidak ingin menjadi paranoid…
Yang menjadikanku erotomania bahkan sampai megalomania…
Aku hanya ingin menghilangkan persekutorik dari tipe somatik…
Itu akan membawaku menjadi seorang parafrenia..,
Atau bahkan sampai pada tahap shared paranoid…
Cinta..cinta…
Tak ku sangka kau membawaku sampai pada toleransiku….
Padahal aku berharap adanya sedikit withdrawal…
Tapi tak apalah.., asalkan tidak menjadi parafilia aku sangat bahagia…
Karena ancaman fetishism dan transvesticnya begitu memalukan…
Belum lagi dengan voyeurism dan frotteurism…
Kini rasanya cinta menjadi insomnia…
Ah …tapi tak apalah, karena ku yakin ini adalah sebuah karunia…
Rabu, 06 Januari 2010
Bogorku yang hilang
2010 merupakan sebuah titik awal dari beberapa sebuah resolusi yang akan kita jalani setahun kedepan. Beberapa rangkaian aktivitas celebarasi membuat hiruk pikuk dibeberapa kota besar, tak terkecuali kota kelahiranku Bogor tercinta. Gerombolan keluarga dari luar maupun dalam kota terus membanjiri kotaku tercinta, mulai dari yang hanya sekedar berkunjung ke sanak keluarga, sampai yang benar-benar berniat mengahabiskan liburan tahun baru di kota Bogor dengan mendatangi tempat-tempat wisata sampai menyewa vila-vila yang tersedia di kawasan agrowisata.
Kepadatan kendaraan terjadi disetiap sudut kota, sehingga roda kendaraan sangatlah sulit untuk bergerak sekedar berguling berputar kedepan. tak hanya kendaraan roda empat saja, hiruk pikuk kendaraan roda dua pun turut memadati jalan-jalan disekitar ibukota. Oleh sebab itu tak aneh rasanya melihat lahan parker yang semakin meluas, bahkan kerap kali memanfaatkan lebar bahu jalan.
Kotaku yang tentram dan nyaman menjadi layaknya kota yang teramat padat penduduknya, sehingga mulai terkikislah tingkat kenyamanan kota, baik dari segi pengguna jalan maupun kualitas udara yang semakin menjadi tidak bersahabat. Hal itu debabkan karena asap kendaraan bermotot yang terus memadati kota Bogor, sehingga membuat oksigen semakin kotor. Belum lagi permasalahan sampah yang berserakan dimana-mana karena ulah beberapa oknum yang seakan tak berdosa membuang sampah tidak pada tempatnya. Tentu saja hanya menambah tingkat polusitas dikotaku Bogor tercinta.
Slogan Gemah, ripah, repeh, rapih rasanya tak cocok lagi tersematkan dikotaku pada saat itu. Bagaimana tidak, karena tingkat urban tourism yang semakin meningkat, tentunya sangatlah sulit memanage itu semua menjadi sebuah penataan yang baik. Bogor seakan terkoyak dengan intense ini.
Memang ada pemasukan daerah yang meningkat, tapi saya pikir itu tidak sebanding beberapa dampak kerugiannya, mulai dari polusi udara, sampai tingkat kemacetan yang begitu tinggi shingga mengurangi kenyamana para penduduk kota. Kita harus lebih bijak lagi menghadapi semua ini, semoga kita masih dapat merasakan aroma segar kota Bogor…..
Kepadatan kendaraan terjadi disetiap sudut kota, sehingga roda kendaraan sangatlah sulit untuk bergerak sekedar berguling berputar kedepan. tak hanya kendaraan roda empat saja, hiruk pikuk kendaraan roda dua pun turut memadati jalan-jalan disekitar ibukota. Oleh sebab itu tak aneh rasanya melihat lahan parker yang semakin meluas, bahkan kerap kali memanfaatkan lebar bahu jalan.
Kotaku yang tentram dan nyaman menjadi layaknya kota yang teramat padat penduduknya, sehingga mulai terkikislah tingkat kenyamanan kota, baik dari segi pengguna jalan maupun kualitas udara yang semakin menjadi tidak bersahabat. Hal itu debabkan karena asap kendaraan bermotot yang terus memadati kota Bogor, sehingga membuat oksigen semakin kotor. Belum lagi permasalahan sampah yang berserakan dimana-mana karena ulah beberapa oknum yang seakan tak berdosa membuang sampah tidak pada tempatnya. Tentu saja hanya menambah tingkat polusitas dikotaku Bogor tercinta.
Slogan Gemah, ripah, repeh, rapih rasanya tak cocok lagi tersematkan dikotaku pada saat itu. Bagaimana tidak, karena tingkat urban tourism yang semakin meningkat, tentunya sangatlah sulit memanage itu semua menjadi sebuah penataan yang baik. Bogor seakan terkoyak dengan intense ini.
Memang ada pemasukan daerah yang meningkat, tapi saya pikir itu tidak sebanding beberapa dampak kerugiannya, mulai dari polusi udara, sampai tingkat kemacetan yang begitu tinggi shingga mengurangi kenyamana para penduduk kota. Kita harus lebih bijak lagi menghadapi semua ini, semoga kita masih dapat merasakan aroma segar kota Bogor…..
power and ageism
Power and Ageism
Sejarah kembali tercipta dari proses demokrasi dinegeri ini. Mulai dari terpilihnya SBY yang dipilih langsung oleh rakyat, sekarang yaitu terpilihnya Edhi Bhaskoro Yudhoyono yang notabenenya adalah anak dari sang presiden dan merupakan salah satu tokoh muda di kerajaan legislative terpilih dengan suara terbanyak menyaingi politikus-politikus handal yang sudah banyak mersakan asam garam dalam dunia perpolitikan dinegeri ini yang ikut bersaing untuk mendapatkan satu tempat terhormat didalam pemerintahan. Tidak hanya itu banyak tokoh-tokoh muda yang minim pengalaman dalam pemerintahan, tapi tentunya memiliki modal yang cukup tidak hanya secara financial, tapi juga secara networking yang terpilih menjadi anggota legislative.
Heran sekaligus takjub, bila menyaksikan realita yang terjadi. Bagaimana tidak??seorang muda yang lugu, polos serta minim pengalama organisasi dapat meyakinkan rakyat untuk dipilih sebagai wakil rakyat, bahkan dengan peraihan suara yang melesat. Sungguh menjadi sebuah ironi bila kita membandingkan dengan beberapa tokoh yang sudah matang secara politik dan pemerintahan, tapi kalah raihan suaranyanya dalam pemilu legislative atau bahkan tidak memenuhi syarat untuk dapat duduk diparlemen.
Its not what you know, but its who you know, mungkin inilah yang terjadi saat ini. Bila kita flashback kebelakang, Ibas sapaan dari Edhi Bhaskoro Yudhoyono merupakan anak seorang presiden, anak seorang pemegang pangku kekuasaan di negeri ini, sudah barang tentu banyak orang yang mengenalnya banyak pejabat yang mengenalnya. Tak jauh berbeda dengan Ibas, tokoh muda dikerajaan legislative juga kebanyakan dari mereka memiliki system networking yang baik juga sehingga mereka dapat berhasil dipemilihan legislative beberapa bulan lalu. Walaupun sedikit kemampuannya, sedikit pengetahuan politiknya, dan sedikit pula pengalaman organisasinya. Ya tapi itulah yang terjadi. Saat ini “tidak penting apa yang dimiliki seseorang, jika dia tidak mengenal seseorang.”
Atau mungkin kini terjadi stereotype ageism pada pemilih. Pemilih tak lagi tertarik untuk memilih tokoh-tokoh tua yang sudah matang dalam pemerintahan tak lagi menjadi alternative pilihan, karena ada tokoh muda yang lebih fresh, yang lebih visioner dibandingkan tokoh tua yang dianggap sudah tidak produktif lagi, karena terbukti dalam beberapa rapat terlihat tokoh-tokoh tua yang tertidur pulas, sedangkan seharusnya ia menyusun undang-undang bukan malah menyusun mimpi didalam larut tidurnya. Sehingga itulah yang menjadi pertimbangan para pemilih apabila mereka memilih tokoh-tokoh tua dan matang.
Tidak hanya secara visioner secara pemikiran. Kita bisa membandingkannya pada saat mereka melakukan kampanye, dimana tokoh-tokoh muda tak hanya berkampanye menggunakan media tertulis dengan poster-poster di Koran, dijalan, atau dengan baleho-baleho dan spanduk seperti halnya cara konvensional. Tapi mereka sudah memasukkan kampenya mereka kedalam dunia maya dengan memanfaatkan iklan-iklan di internet, sehingga kampanye mereka tidak hanya paper based tapi juga menggunakan web based, karena dirasakan saat ini dapat lebih efektif.
Dari keseluruhan factor yang mempengaruhi keterpilihan kaum muda diparlemen tak terlepas dari permasalahan power yang dimiliki. Dimana menurut Franch & Raven power adalam kemampuan seseorang untuk dapat mempengaruhi orang lain. kaum muda saat ini dinilai dapat dengan mudah mempengaruhi orang lain dengan visi dan beberapa pemikirannya yang lebih fresh dan tentunya tidak konvensional seperti para tokoh pendahulunya. Karena negeri ini butuh perubahan dan kaum mudalah yang diharapkan dapat berperan sebagai agen of cange, kaum muda diharapkan dapat menjalankan amanah rakyat yang sudah banyak dikecewakan oleh janji-janji kaum tua yang sampai saat ini masih belum dapat ditepati. Walaupun sepertinya masih harus meraba-raba untuk mengetahui kemampuan kaum muda. Inilah yang terjadi how power influences moral thinking seseorang, sehingga dapat mempengaruhi pemikiran seseorang untuk lebih memilih kaum muda dibandingkan kaum tua yang sudah banyak terbuang janji-janjinya di dalam tempat sampah.
Sejarah kembali tercipta dari proses demokrasi dinegeri ini. Mulai dari terpilihnya SBY yang dipilih langsung oleh rakyat, sekarang yaitu terpilihnya Edhi Bhaskoro Yudhoyono yang notabenenya adalah anak dari sang presiden dan merupakan salah satu tokoh muda di kerajaan legislative terpilih dengan suara terbanyak menyaingi politikus-politikus handal yang sudah banyak mersakan asam garam dalam dunia perpolitikan dinegeri ini yang ikut bersaing untuk mendapatkan satu tempat terhormat didalam pemerintahan. Tidak hanya itu banyak tokoh-tokoh muda yang minim pengalaman dalam pemerintahan, tapi tentunya memiliki modal yang cukup tidak hanya secara financial, tapi juga secara networking yang terpilih menjadi anggota legislative.
Heran sekaligus takjub, bila menyaksikan realita yang terjadi. Bagaimana tidak??seorang muda yang lugu, polos serta minim pengalama organisasi dapat meyakinkan rakyat untuk dipilih sebagai wakil rakyat, bahkan dengan peraihan suara yang melesat. Sungguh menjadi sebuah ironi bila kita membandingkan dengan beberapa tokoh yang sudah matang secara politik dan pemerintahan, tapi kalah raihan suaranyanya dalam pemilu legislative atau bahkan tidak memenuhi syarat untuk dapat duduk diparlemen.
Its not what you know, but its who you know, mungkin inilah yang terjadi saat ini. Bila kita flashback kebelakang, Ibas sapaan dari Edhi Bhaskoro Yudhoyono merupakan anak seorang presiden, anak seorang pemegang pangku kekuasaan di negeri ini, sudah barang tentu banyak orang yang mengenalnya banyak pejabat yang mengenalnya. Tak jauh berbeda dengan Ibas, tokoh muda dikerajaan legislative juga kebanyakan dari mereka memiliki system networking yang baik juga sehingga mereka dapat berhasil dipemilihan legislative beberapa bulan lalu. Walaupun sedikit kemampuannya, sedikit pengetahuan politiknya, dan sedikit pula pengalaman organisasinya. Ya tapi itulah yang terjadi. Saat ini “tidak penting apa yang dimiliki seseorang, jika dia tidak mengenal seseorang.”
Atau mungkin kini terjadi stereotype ageism pada pemilih. Pemilih tak lagi tertarik untuk memilih tokoh-tokoh tua yang sudah matang dalam pemerintahan tak lagi menjadi alternative pilihan, karena ada tokoh muda yang lebih fresh, yang lebih visioner dibandingkan tokoh tua yang dianggap sudah tidak produktif lagi, karena terbukti dalam beberapa rapat terlihat tokoh-tokoh tua yang tertidur pulas, sedangkan seharusnya ia menyusun undang-undang bukan malah menyusun mimpi didalam larut tidurnya. Sehingga itulah yang menjadi pertimbangan para pemilih apabila mereka memilih tokoh-tokoh tua dan matang.
Tidak hanya secara visioner secara pemikiran. Kita bisa membandingkannya pada saat mereka melakukan kampanye, dimana tokoh-tokoh muda tak hanya berkampanye menggunakan media tertulis dengan poster-poster di Koran, dijalan, atau dengan baleho-baleho dan spanduk seperti halnya cara konvensional. Tapi mereka sudah memasukkan kampenya mereka kedalam dunia maya dengan memanfaatkan iklan-iklan di internet, sehingga kampanye mereka tidak hanya paper based tapi juga menggunakan web based, karena dirasakan saat ini dapat lebih efektif.
Dari keseluruhan factor yang mempengaruhi keterpilihan kaum muda diparlemen tak terlepas dari permasalahan power yang dimiliki. Dimana menurut Franch & Raven power adalam kemampuan seseorang untuk dapat mempengaruhi orang lain. kaum muda saat ini dinilai dapat dengan mudah mempengaruhi orang lain dengan visi dan beberapa pemikirannya yang lebih fresh dan tentunya tidak konvensional seperti para tokoh pendahulunya. Karena negeri ini butuh perubahan dan kaum mudalah yang diharapkan dapat berperan sebagai agen of cange, kaum muda diharapkan dapat menjalankan amanah rakyat yang sudah banyak dikecewakan oleh janji-janji kaum tua yang sampai saat ini masih belum dapat ditepati. Walaupun sepertinya masih harus meraba-raba untuk mengetahui kemampuan kaum muda. Inilah yang terjadi how power influences moral thinking seseorang, sehingga dapat mempengaruhi pemikiran seseorang untuk lebih memilih kaum muda dibandingkan kaum tua yang sudah banyak terbuang janji-janjinya di dalam tempat sampah.
bla...bla...bla...
Sejarah kembali tercipta dari proses demokrasi dinegeri ini. Mulai dari terpilihnya SBY yang dipilih langsung oleh rakyat, sekarang yaitu terpilihnya Edhi Bhaskoro Yudhoyono yang notabenenya adalah anak dari sang presiden dan merupakan salah satu tokoh muda di kerajaan legislative terpilih dengan suara terbanyak menyaingi politikus-politikus handal yang sudah banyak mersakan asam garam dalam dunia perpolitikan dinegeri ini yang ikut bersaing untuk mendapatkan satu tempat terhormat didalam pemerintahan. Tidak hanya itu banyak tokoh-tokoh muda yang minim pengalaman dalam pemerintahan, tapi tentunya memiliki modal yang cukup tidak hanya secara financial, tapi juga secara networking yang terpilih menjadi anggota legislative.
Heran sekaligus takjub, bila menyaksikan realita yang terjadi. Bagaimana tidak??seorang muda yang lugu, polos serta minim pengalama organisasi dapat meyakinkan rakyat untuk dipilih sebagai wakil rakyat, bahkan dengan peraihan suara yang melesat. Sungguh menjadi sebuah ironi bila kita membandingkan dengan beberapa tokoh yang sudah matang secara politik dan pemerintahan, tapi kalah raihan suaranyanya dalam pemilu legislative atau bahkan tidak memenuhi syarat untuk dapat duduk diparlemen.
Its not what you know, but its who you know, mungkin inilah yang terjadi saat ini. Bila kita flashback kebelakang, Ibas sapaan dari Edhi Bhaskoro Yudhoyono merupakan anak seorang presiden, anak seorang pemegang pangku kekuasaan di negeri ini, sudah barang tentu banyak orang yang mengenalnya banyak pejabat yang mengenalnya. Tak jauh berbeda dengan Ibas, tokoh muda dikerajaan legislative juga kebanyakan dari mereka memiliki system networking yang baik juga sehingga mereka dapat berhasil dipemilihan legislative beberapa bulan lalu. Walaupun sedikit kemampuannya, sedikit pengetahuan politiknya, dan sedikit pula pengalaman organisasinya. Ya tapi itulah yang terjadi. Saat ini “tidak penting apa yang dimiliki seseorang, jika dia tidak mengenal seseorang.”
Atau mungkin kini terjadi stereotype ageism pada pemilih. Pemilih tak lagi tertarik untuk memilih tokoh-tokoh tua yang sudah matang dalam pemerintahan tak lagi menjadi alternative pilihan, karena ada tokoh muda yang lebih fresh, yang lebih visioner dibandingkan tokoh tua yang dianggap sudah tidak produktif lagi, karena terbukti dalam beberapa rapat terlihat tokoh-tokoh tua yang tertidur pulas, sedangkan seharusnya ia menyusun undang-undang bukan malah menyusun mimpi didalam larut tidurnya. Sehingga itulah yang menjadi pertimbangan para pemilih apabila mereka memilih tokoh-tokoh tua dan matang.
Tidak hanya secara visioner secara pemikiran. Kita bisa membandingkannya pada saat mereka melakukan kampanye, dimana tokoh-tokoh muda tak hanya berkampanye menggunakan media tertulis dengan poster-poster di Koran, dijalan, atau dengan baleho-baleho dan spanduk seperti halnya cara konvensional. Tapi mereka sudah memasukkan kampenya mereka kedalam dunia maya dengan memanfaatkan iklan-iklan di internet, sehingga kampanye mereka tidak hanya paper based tapi juga menggunakan web based, karena dirasakan saat ini dapat lebih efektif.
Dari keseluruhan factor yang mempengaruhi keterpilihan kaum muda diparlemen tak terlepas dari permasalahan power yang dimiliki. Dimana menurut Franch & Raven power adalam kemampuan seseorang untuk dapat mempengaruhi orang lain. kaum muda saat ini dinilai dapat dengan mudah mempengaruhi orang lain dengan visi dan beberapa pemikirannya yang lebih fresh dan tentunya tidak konvensional seperti para tokoh pendahulunya. Karena negeri ini butuh perubahan dan kaum mudalah yang diharapkan dapat berperan sebagai agen of cange, kaum muda diharapkan dapat menjalankan amanah rakyat yang sudah banyak dikecewakan oleh janji-janji kaum tua yang sampai saat ini masih belum dapat ditepati. Walaupun sepertinya masih harus meraba-raba untuk mengetahui kemampuan kaum muda. Inilah yang terjadi how power influences moral thinking seseorang, sehingga dapat mempengaruhi pemikiran seseorang untuk lebih memilih kaum muda dibandingkan kaum tua yang sudah banyak terbuang janji-janjinya di dalam tempat sampah.
Heran sekaligus takjub, bila menyaksikan realita yang terjadi. Bagaimana tidak??seorang muda yang lugu, polos serta minim pengalama organisasi dapat meyakinkan rakyat untuk dipilih sebagai wakil rakyat, bahkan dengan peraihan suara yang melesat. Sungguh menjadi sebuah ironi bila kita membandingkan dengan beberapa tokoh yang sudah matang secara politik dan pemerintahan, tapi kalah raihan suaranyanya dalam pemilu legislative atau bahkan tidak memenuhi syarat untuk dapat duduk diparlemen.
Its not what you know, but its who you know, mungkin inilah yang terjadi saat ini. Bila kita flashback kebelakang, Ibas sapaan dari Edhi Bhaskoro Yudhoyono merupakan anak seorang presiden, anak seorang pemegang pangku kekuasaan di negeri ini, sudah barang tentu banyak orang yang mengenalnya banyak pejabat yang mengenalnya. Tak jauh berbeda dengan Ibas, tokoh muda dikerajaan legislative juga kebanyakan dari mereka memiliki system networking yang baik juga sehingga mereka dapat berhasil dipemilihan legislative beberapa bulan lalu. Walaupun sedikit kemampuannya, sedikit pengetahuan politiknya, dan sedikit pula pengalaman organisasinya. Ya tapi itulah yang terjadi. Saat ini “tidak penting apa yang dimiliki seseorang, jika dia tidak mengenal seseorang.”
Atau mungkin kini terjadi stereotype ageism pada pemilih. Pemilih tak lagi tertarik untuk memilih tokoh-tokoh tua yang sudah matang dalam pemerintahan tak lagi menjadi alternative pilihan, karena ada tokoh muda yang lebih fresh, yang lebih visioner dibandingkan tokoh tua yang dianggap sudah tidak produktif lagi, karena terbukti dalam beberapa rapat terlihat tokoh-tokoh tua yang tertidur pulas, sedangkan seharusnya ia menyusun undang-undang bukan malah menyusun mimpi didalam larut tidurnya. Sehingga itulah yang menjadi pertimbangan para pemilih apabila mereka memilih tokoh-tokoh tua dan matang.
Tidak hanya secara visioner secara pemikiran. Kita bisa membandingkannya pada saat mereka melakukan kampanye, dimana tokoh-tokoh muda tak hanya berkampanye menggunakan media tertulis dengan poster-poster di Koran, dijalan, atau dengan baleho-baleho dan spanduk seperti halnya cara konvensional. Tapi mereka sudah memasukkan kampenya mereka kedalam dunia maya dengan memanfaatkan iklan-iklan di internet, sehingga kampanye mereka tidak hanya paper based tapi juga menggunakan web based, karena dirasakan saat ini dapat lebih efektif.
Dari keseluruhan factor yang mempengaruhi keterpilihan kaum muda diparlemen tak terlepas dari permasalahan power yang dimiliki. Dimana menurut Franch & Raven power adalam kemampuan seseorang untuk dapat mempengaruhi orang lain. kaum muda saat ini dinilai dapat dengan mudah mempengaruhi orang lain dengan visi dan beberapa pemikirannya yang lebih fresh dan tentunya tidak konvensional seperti para tokoh pendahulunya. Karena negeri ini butuh perubahan dan kaum mudalah yang diharapkan dapat berperan sebagai agen of cange, kaum muda diharapkan dapat menjalankan amanah rakyat yang sudah banyak dikecewakan oleh janji-janji kaum tua yang sampai saat ini masih belum dapat ditepati. Walaupun sepertinya masih harus meraba-raba untuk mengetahui kemampuan kaum muda. Inilah yang terjadi how power influences moral thinking seseorang, sehingga dapat mempengaruhi pemikiran seseorang untuk lebih memilih kaum muda dibandingkan kaum tua yang sudah banyak terbuang janji-janjinya di dalam tempat sampah.
Selasa, 05 Januari 2010
aku tak paham....!!!
Saya tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi kini.
Saya tidak paham apa yang sedang mereka ributkan.
Apakah saya bodoh???
Atau apakah karena saya tidak mengikuti berita???
Atau mungkin juga karena saya yang tak perduli dengan para wali (pejabat negeri)
Kenapa saya begini???
Saya pikir saya tidak satu level memikirkan yang berada dibawah level saya
Saya pikir tidak ada gunanya membahas tentang mereka
Saya pikir hanya membuang waktu saya kalau ikut-ikutan berdebat tentang mereka
Karena mereka semua hanyalah sampah yang tidak pada tempatnya
Karena mereka hanyalah bedebah dari sekian banyak wabah
Karena mereka hanyalah lintah, yang tidak selalu berada ditempat yang basah
Karena mereka adalah munafik dari setiap topik
Karena mereka tidak penting menjadi suatu yang penting
Karena mereka tak pantas berada ditempat yang pantas
Karena mereka adalah enemy dari sekian banyak musuh
Tapi beruntunglah saya masih memiliki banyak sahabat
Sahabat yang rela panas-panasan demi memperjuangkan rakyat
Tapi tak jarang juga sahabat saya yang menjadi pengkhianat
Demi mendapat seperak mereka rela menjilat
Tapi aku yakin sahabat-sahabat saya adalah orang yang hebat
Aku yakin sahabat-sahabat saya orang yang kuat dan bermartabat
Sehingga tak goyah terus berjuang melawan koruptor keparat
Saya tidak paham apa yang sedang mereka ributkan.
Apakah saya bodoh???
Atau apakah karena saya tidak mengikuti berita???
Atau mungkin juga karena saya yang tak perduli dengan para wali (pejabat negeri)
Kenapa saya begini???
Saya pikir saya tidak satu level memikirkan yang berada dibawah level saya
Saya pikir tidak ada gunanya membahas tentang mereka
Saya pikir hanya membuang waktu saya kalau ikut-ikutan berdebat tentang mereka
Karena mereka semua hanyalah sampah yang tidak pada tempatnya
Karena mereka hanyalah bedebah dari sekian banyak wabah
Karena mereka hanyalah lintah, yang tidak selalu berada ditempat yang basah
Karena mereka adalah munafik dari setiap topik
Karena mereka tidak penting menjadi suatu yang penting
Karena mereka tak pantas berada ditempat yang pantas
Karena mereka adalah enemy dari sekian banyak musuh
Tapi beruntunglah saya masih memiliki banyak sahabat
Sahabat yang rela panas-panasan demi memperjuangkan rakyat
Tapi tak jarang juga sahabat saya yang menjadi pengkhianat
Demi mendapat seperak mereka rela menjilat
Tapi aku yakin sahabat-sahabat saya adalah orang yang hebat
Aku yakin sahabat-sahabat saya orang yang kuat dan bermartabat
Sehingga tak goyah terus berjuang melawan koruptor keparat
Langganan:
Postingan (Atom)